Dalam dunia pendidikan pesantren, ilmu tidak sekadar dihafal dan dikuasai, tetapi juga diresapi dan diamalkan. Itulah sebabnya, banyak pesantren memiliki semboyan yang tidak hanya menggambarkan visi pendidikan, tapi juga arah pembentukan karakter santri. Salah satunya Pesantren Persatuan Islam 87 Pangatikan dengan semboyannya yang sarat makna ini: “Bageur – Pinter – Singer.

Tiga kata sederhana, namun mencakup seluruh dimensi pembentukan insan paripurna—berakhlak, berilmu, dan bermanfaat.

1. Bageur – Berakhlak Mulia sebagai Pondasi

Dalam bahasa Sunda, bageur berarti baik: baik hati, sopan, dan beradab. Ia adalah pondasi utama seorang santri. Tidak cukup hanya berilmu tanpa adab, sebab ilmu tanpa akhlak hanya akan melahirkan kesombongan. Rasulullah ? diutus bukan semata untuk mengajarkan hukum, tetapi untuk menyempurnakan akhlak manusia.

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
(HR. Ahmad, no. 8952 – hadits hasan shahih)

Pesantren berharap, setiap santri tumbuh menjadi pribadi yang bageur—yang lembut tutur katanya, santun perilakunya, dan menebarkan kasih dalam setiap langkah.

2. Pinter – Cerdas dan Berilmu

Setelah akhlak, pilar kedua adalah pinter: cerdas, kritis, dan berpengetahuan. Islam sangat menekankan pentingnya ilmu. Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ? adalah perintah untuk membaca.

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.”
(QS. Al-‘Alaq [96]: 1)

Santri pinter bukan hanya yang pandai menjawab soal atau menghafal kitab, tetapi juga yang mampu berpikir luas, mengaitkan ilmu agama dengan realitas kehidupan. Pesantren menanamkan semangat bahwa kecerdasan sejati bukan diukur dari nilai ujian, tapi dari sejauh mana ilmu itu membawa manfaat bagi diri dan umat.

3. Singer – Peka dan Bermanfaat bagi Sesama

Kata singer dalam budaya Sunda berarti tanggap, sigap, dan peduli. Santri tidak diajarkan menjadi penonton, tapi pelaku perubahan sosial. Ia harus singer terhadap penderitaan, cepat dalam menolong, dan peduli terhadap lingkungan sekitar.

Rasulullah SAW bersabda:

 “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ahmad, no. 23408 – hadits hasan)

Dengan semangat singer, santri diharapkan menjadi generasi yang tidak hanya pandai berbicara kebaikan, tetapi juga cepat bertindak saat melihat ketidakadilan atau kesulitan orang lain.

Pesantren: Rumah Tumbuhnya Tiga Nilai

Tiga nilai ini—bageur, pinter, singer—tidak diajarkan sebatas teori, tapi dihidupkan dalam kehidupan pesantren. Dari bangun pagi hingga tidur malam, setiap aktivitas santri adalah bagian dari proses pembentukan karakter.

Di masjid, mereka belajar bageur dalam ibadah.
Di kelas, mereka dilatih pinter dalam berpikir.
Di asrama dan masyarakat, mereka ditempa menjadi singer—peka, peduli, dan tangguh.

Semboyan “Bageur – Pinter – Singer” bukan sekadar kata-kata indah di dinding pesantren, tapi cermin cita-cita luhur pendidikan Islam: melahirkan santri yang berakhlak mulia, berilmu luas, dan bermanfaat bagi sesama.

Ketiganya adalah jalan menuju pribadi yang paripurna—insan kamil—yang siap menjadi cahaya kebaikan di tengah masyarakat.
Dengan semangat itu, pesantren terus berkomitmen mendidik generasi penerus bangsa yang bageur haténa, pinter pikirna, jeung singer lampahna.