Hari Guru Nasional: Antara Penghormatan dan Kenyataan yang Terlupakan
Oleh: Shaddiq Amin M, S.Ag.
Hari Guru Nasional kembali hadir, dan seperti biasa, suasana sekolah berubah lebih ramai dari biasanya. Spanduk ucapan terpasang, siswa-siswi berebut membuat kartu ucapan, dan deretan kalimat puitis tentang guru memenuhi grup WhatsApp. Namun, di tengah semua kemeriahan itu, ada pertanyaan yang jarang disentuh: apakah penghargaan kepada guru benar-benar hidup dalam keseharian sekolah, atau hanya dalam perayaan?
Di pesantren, guru disebut ustadz dan ustadzah, atau bahkan murabbi—gelar yang mulia, tempat berkumpulnya adab, ilmu, dan keteladanan. Tetapi ironinya, tak sedikit di antara mereka yang bekerja tanpa fasilitas layak, tanpa penguatan mental, tanpa dukungan sistem yang stabil. Mereka yang tiap hari mengajar kitab kuning hingga larut malam, membimbing akhlak santri, mengurus masalah asrama hingga urusan hati yang paling kusut, seringkali hanya diingat jasanya ketika Hari Guru tiba.
Kita memuji guru sebagai penerang jalan, namun adakalanya kita lebih cepat mengkritik kesalahan kecil mereka daripada menghargai proses panjang yang mereka tempuh. Kita mengutip ayat tentang kemuliaan ilmu, tapi lupa bahwa guru—yang menjadi perantaranya—juga manusia yang membutuhkan penghormatan, bukan hanya tuntutan.
Di lingkungan pesantren pun, romantisasi kadang menjadi tabir yang membungkam realitas. Guru digambarkan sebagai sosok yang ikhlas tanpa batas, padahal ikhlas bukan alasan untuk mengabaikan kebutuhan dasar mereka. Kita menyebut mereka pewaris para nabi, tetapi sistem yang menaungi mereka acapkali tidak seagung gelar itu.
Semua orang berlomba mengucapkan terima kasih pada Hari Guru, tetapi sedikit yang mempertanyakan:
Apakah beban administrasi guru sudah diringankan?
Apakah kesejahteraan mereka diperhatikan?
Apakah suara mereka didengar saat kebijakan dibuat?
Apakah kita, sebagai santri, benar-benar meneladani adab yang mereka ajarkan?
Jika setiap tahun kita hanya merayakan tanpa memperbaiki, maka Hari Guru Nasional tidak lebih dari panggung tahunan—sebuah ritual simbolis yang indah, tetapi kosong dari perubahan.
Guru tidak menginginkan santri menitikkan air mata saat membacakan puisi, tetapi lupa menghormati mereka keesokan harinya. Guru tidak meminta spanduk besar, tetapi menginginkan ekosistem yang membuat ilmu bisa tumbuh. Guru tidak butuh pengagungan sesaat, tetapi penghormatan yang konsisten.
Dan pesantren, sebagai tempat lahirnya para dai dan pemimpin umat, seharusnya menjadi teladan dalam memperbaiki cara kita memperlakukan guru. Karena jika pesantren tidak mampu menegakkan penghargaan yang hakiki kepada para pendidiknya, bagaimana mungkin masyarakat di luar sana akan melakukannya?
Hari Guru Nasional bukan sekadar hari untuk mengingat jasa mereka—tetapi hari untuk menegur diri kita sendiri.