Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional, Pesantren Persis 87 Pangatikan menggelar kegiatan yang penuh makna dan nuansa keislaman. Kegiatan ini menjadi momentum bagi seluruh santri untuk meneguhkan kembali jati diri sebagai pewaris perjuangan ulama, sekaligus memperkuat akhlak serta semangat keilmuan yang menjadi ciri khas seorang santri.
Acara diawali dengan tausiyah dari Ustadz Karim, yang mengangkat tema “Eksistensi Santri di Era Modern”. Dalam penyampaiannya, beliau menegaskan bahwa keberadaan santri bukan hanya sebagai pelajar agama, tetapi juga sebagai penjaga moral bangsa dan penerus nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Beliau menjelaskan bahwa akhlak merupakan pondasi utama bagi setiap santri:
-
Akhlak kepada Allah, diwujudkan melalui keikhlasan beribadah dan ketaatan kepada syariat-Nya.
-
Akhlak kepada guru, dengan menunjukkan rasa hormat, adab, dan kesungguhan dalam menimba ilmu.
-
Akhlak kepada orang tua, dengan berbakti, mendoakan, serta menjaga nama baik keluarga.
-
Akhlak kepada sesama, dengan menjunjung nilai kasih sayang, tolong-menolong, dan kejujuran dalam pergaulan.
Selanjutnya, acara dilanjutkan oleh Ustadz Osid, yang membawakan materi tentang sejarah singkat Hari Santri Nasional. Beliau menjelaskan bahwa peringatan ini berawal dari resolusi jihad yang dicetuskan oleh para ulama pada 22 Oktober 1945, di mana para santri ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Dalam tausiyahnya, Ustadz Osid juga menyampaikan firman Allah dalam Surah At-Taubah ayat 122:
“Tidak sepatutnya bagi orang-orang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah: 122)
Ayat ini menjadi pengingat bahwa tugas santri adalah memperdalam ilmu agama dan menyebarkannya dengan hikmah, agar umat senantiasa berada di jalan kebenaran.
Sebagai penutup, Ustadz Dadan memberikan tausiyah singkat yang menegaskan pentingnya ketaatan seorang santri. Beliau menyampaikan bahwa santri sejati adalah mereka yang taat kepada Allah, kepada guru, kepada aturan pesantren, serta kepada nilai-nilai kebenaran. Ketaatan itulah yang akan melahirkan keberkahan ilmu dan keteguhan dalam menghadapi tantangan zaman.
Kegiatan Hari Santri Nasional di Pesantren Persis 87 Pangatikan tahun ini bukan sekadar seremoni, tetapi juga menjadi refleksi spiritual dan moral bagi seluruh santri. Melalui tausiyah dan hikmah yang disampaikan para ustadz, diharapkan lahir generasi santri yang berilmu, beradab, dan senantiasa taat dalam menjalankan perannya sebagai penjaga nilai-nilai Islam dan keutuhan bangsa.