Makna Alif-Lam pada Kata “Al-Hamdu

Oleh: Yudis Islami Madani, S.Pd.

 

Ketika kita membaca Surah Al-Fatihah, kalimat pertama dalam ayat kedua yang menyapa kita adalah “Alhamdulillah”. Kalimat ini sudah sangat akrab di telinga, namun di balik kesederhanaannya tersembunyi struktur bahasa yang sangat kuat. Salah satu bagian yang menarik untuk dicermati adalah penggunaan alif-lam  pada kata Alhamddu.

Alif-Lam: Mengapa Hamd Itu Menjadi Ma‘rifah?

Dalam Kitabnya Dr. Fadhil Shalih menyatakan: Falhamdu ma’rifatu lidukhulil alif wal lam. Kira-kira maksudnya begini;kata “al-?amdu” disebut ma‘rifah (definitif) karena ada alif-lam di depannya. Bahasa Arab mengenal dua bentuk kata: ma‘rifah (definitif) dan nakirah (indefinitif). Ketika sebuah kata berubah menjadi ma‘rifah, maknanya menjadi lebih jelas dan lebih sempurna.Berbeda dengan (tanpa alif-lam),“Alhamdu” bermakna pujian yang sudah ditentukan, diketahui, dan ditetapkan, bukan pujian yang bersifat umum atau samar.

Alif-Lam di Sini Bukan Alif-Lam Biasa

Menariknya, alif-lam pada “Alhamdu” tidak hanya berfungsi untuk menjadikan kata itu ma‘rifah. Penulis kitab menambahkan: wa qod yakun listighraqi fayadkhulu fiih kulla hamdin.“… dan alif-lam itu dapat bermakna istighraq, sehingga seluruh jenis pujian masuk ke dalamnya.”

Di sinilah kedalamannya.

Apa itu istighraq?

Secara sederhana, istighraq berarti meliputi semuanya secara total. Tidak ada yang tertinggal. Dengan demikian, kata “Alhamdu” berarti: “Seluruh pujian apa pun bentuknya, kapan pun waktunya, dari siapa pun datangnya—semuanya kembali kepada Allah.”Pujian manusia kepada manusia?, Pujian makhluk kepada makhluk lainnya?,Pujian yang muncul dalam hati?,Pujian melalui lisan, tulisan, atau keadaan?

Semuanya—secara hakikat—kembali kepada Allah, karena Dialah sumber seluruh kebaikan yang dipuji itu.

Hadis sebagai Penguat Makna Istighraq

Untuk memperkuat makna ini, dalam kitab tersebut mengutip sebuah hadis dari Nabi ?: Allahumma lakal hamdu kulluhu. “Ya Allah, bagi-Mu seluruh pujian”. Menarik bahwa Nabi ? menggunakan kata Kulluhu (seluruhnya), seolah menegaskan apa yang sudah tersirat dalam kata Alhamdu. Artinya, Al-Qur’an dan Sunnah sama-sama menggiring kita pada pemahaman bahwa:Tidak ada satu pun jenis pujian di alam semesta yang lepas dari kepemilikan Allah. Mengapa Allah Layak Atas Semua Pujian? Jika kita bertanya:“Mengapa semua pujian harus kembali kepada Allah?” Jawabannya sederhana namun fundamental:

·         Setiap kebaikan yang dilakukan manusia bersumber dari taufik Allah.

·         Setiap keindahan sifat yang kita lihat pada seseorang adalah ciptaan Allah.

·         Setiap nikmat yang dirasakan makhluk berasal dari Allah.

·         Bahkan kemampuan manusia untuk memuji pun adalah karunia Allah.

Maka, memuji siapa pun pada hakikatnya tetap bermuara kepada-Nya.