Sumatra yang Luka: Ketika Tanah Kaya, Warganya Menanggung Derita

Oleh: M. Fauzan Muliyaman (Santri Kelas IX)

Sumatra kembali menangis. Tanahnya yang hijau, hutan yang dulu menjadi paru-paru Nusantara, kini retak dan hancur oleh bencana yang datang silih berganti. Banjir bandang, longsor, dan kerusakan ekologi seakan menjadi tamu tetap yang tak pernah diundang. Namun di balik semua itu, masyarakat semakin sadar bahwa musibah ini bukan sekadar urusan alam ada jejak tangan manusia yang ikut melukai bumi Sumatra.

Selama bertahun-tahun, aktivitas tambang terus dibiarkan membuka tubuh bumi tanpa kendali. Gunung-gunung dikeruk, sungai-sungai tercemar, dan pepohonan tumbang tanpa sempat digantikan. Tanah yang kehilangan pegangan akhirnya meluruh; air hujan yang seharusnya meresap kini mengalir liar, membawa bencana ke rumah-rumah penduduk. Mereka kehilangan tempat tinggal, mata pencaharian, bahkan nyawa keluarga tercinta.

Di tengah tragedi ini, masyarakat bertanya siapa yang sesungguhnya paling diuntungkan dari semua ini? Ironisnya, warga yang paling dekat dengan lokasi tambang justru adalah pihak yang paling merasakan akibat buruknya. Sementara itu, suara mereka sering kali tenggelam, kalah oleh kepentingan yang lebih besar.

Negara sebenarnya memiliki kekuatan untuk menghentikan luka ini. Regulasi bisa ditegakkan, pengawasan bisa diperketat, dan izin tambang yang merusak bisa dicabut. Namun masyarakat merasa seperti menunggu dalam hening seolah bumi harus hancur lebih parah dulu sebelum tindakan nyata dilakukan. Kritikan ini bukan bentuk pembangkangan, tetapi panggilan hati dari rakyat kecil yang merindukan keadilan bagi tanah kelahirannya.

Sumatra adalah anugerah, bukan arena eksploitasi. Tanah yang kaya ini seharusnya memberi kesejahteraan, bukan bencana. Bila negara hadir dengan keberpihakan yang tegas, jika kebijakan berpihak pada kelestarian dan manusia, mungkin Sumatra tidak perlu menangis sesering ini.

Kini saatnya kembali berpikir betapa mahal harga pembangunan yang tidak berkeadilan. Sebab yang harusnya menjadi berkah, bisa berubah menjadi petaka ketika alam hanya dilihat sebagai angka keuntungan, bukan sebagai titipan yang harus dijaga.

Semoga luka Sumatra menjadi pengingat bahwa pembangunan sejati bukan hanya mengejar untung, tetapi juga merawat bumi dan menjaga manusia yang hidup di atasnya.